Lazimnya sebuah rumah jabatan (rujab) kepala daerah selalu dikelilingi pagar tinggi, mewah, disertai pengamanan ekstra ketat. Jalan masuknya pun dijaga beberapa aparat yang tampak siaga di posko penjagaan.
Setiap tamu yang masuk terlebih dulu dicecar tujuan, asal, atau sistem protokoler yang berbelit-belit. Namun, hal itu tidak berlaku di rujab milik Bupati Boalemo, Gorontalo, Iwan Bokings. Di rumah dinas Bupati dua periode itu, justru dibuka lebarlebar bagi warga tanpa perbedaan. Pengamanan pun hanya dijaga petugas Satpol PP antara dua sampai empat orang saja.
“Saya memang tidak mau terlihat ekslusif di antara warga yang telah mempercayakan saya memimpin daerah ini. Makanya saya minta rujab tidak dipagari supaya bisa dekat dan mudah diakses oleh warga. Selain itu ,setiap yang berkunjung tidak perlu direportkan dengan urusan birokrasi panjang,”tuturnya kepada media di Makassar, kemarin.
Sejak menjadi Bupati Boalemo,Ketua DPD Partai Demokrat Gorontalo itu selalu menyiapkan waktu dan tempat bagi rakyatnya untuk bertemu langsung.Tak peduli subuh, siang, atau malam.Jika ada yang bertandang ke kediamannya, pasti diterima dengan ramah dan santun. Inilah perbedaan yang paling menonjol pada kepemimpinan Iwan dibanding kebanyakan pemimpin di Indonesia.
Iwan yang baru saja menerima Gelar Doktoral Administrasi Publik dari Universitas Negeri Makassar (UNM) ini mengakui,kondisi itu bisa dijumpai di awal periodenya menjabat sampai saat ini. Dengan sistem keterbukaan itu,masyarakat nyaris mengabaikan layanan pengaduan yang langsung masuk ke ponsel pribadinya.
Sebab,dengan mudah, rakyat bisa bertemu langsung dengan Bupati. Dia mengatakan, dulu, hampir setiap saat, baik subuh, siang, maupun malam, bisa dijumpai 20 sampai 30 orang yang menyambangi kediamannya.Alasannya, warga jauh lebih praktis menyampaikan aspirasi dan tidak membutuhkan biaya besar.
Jika tetap mempertahankan sistem pengaduan ke rujab, pihaknya mempertimbangkan biaya yang dihabiskan warga ke sana. Selain itu, proses tindaklanjut pengaduan bisa cepat terhadap persoalan yang dilaporkan warga. Malah, Iwan mengaku tidak khawatir jika terjadi unjuk rasa sewaktu-waktu.
Tapi, berkat keuletannya menerapkan sistem pemeritahan transparan,hanya di awal pemerintahannya saja ada unjuk rasa.Itu pun tidak berkaitan dengan kebijakannya tapi kebijakan pusat.
“Selama ini,saya lebih banyak berkeliling kabupaten mengunjungi warga dan jarang berkantor. Seluruh kegiatan kantor dipindahkan dan mengikuti saya di mana pun berada. Karena saya lebih senang memantau langsung kondisi warga. Alhamdulillah, selama ini pemerintahan tetap berjalan dengan baik,”kata suami anggota DPR RI asal Fraksi Demokrat Kasma Bouty ini.
Tak hanya membuka ruang seluas-luasnya bagi warga menemui bupatinya.Namun, atas sikap sosial Bupati penerima penganugerahan dari Menteri Dalam Negeri sebagai pejabat dengan kinerja tinggi di bidang penyelenggaraan pemerintahan daerah 2010 lalu,pun memberdayakan orang- orang dengan keterbatasan khusus, mulai dari tuna netra sampai orang pendek alias cebol.
“Mereka saya pekerjakan bukan karena kasihan, tapi saya melihat mereka bisa bekerja seperti orang-orang kebanyakan meski mereka memiliki keterbatasan. Makanya, saya ajak dua orang tuna netra bekerja di rujab sebagai penerima telepon dan yang satunya menjadi ajudan ketiga saya meski tubuhnya tidak tinggi kekar,”ungkapnya.
Tak sampai disitu,hal aneh dan sangat jarang dilakukan pejabat seperti Iwan,yakni menempatkan di meja kerjanya kain kafan berdekatan dengan papan nama bertuliskan “Bupati”. Kain kafan itu,papar dia,bertujuan untuk mengingatkan pada siapa saja yang masuk di ruang kerjanya untuk mengingat mati, sehingga dalam berbuaat tidak melakukan hal-hal yang melenceng dari aturan.
Walaupun,kenyataannya beberapa staf melihatnya itu aneh dan mengerikan. “Jabatan saya itu banyak godaannya, apalagi kalau sudah masuk di ruangan hanya ada saya dan tamu tentu kalau tidak diantisipasi bisa-bisa ikut tergoda.Makanya,saya taruh kain kafan supaya yang mau macam-macam mengurungkan niatnya,”tuturnya.
Hasilnya,memang efektif meski belum signifikan,karena sejumlah pengusaha atau siapapun yang mencoba melakukan deal-deal diluar jalur justru mengurungkan niatnya.Walau,efeknya meniadakan korupsi di daerahnya belum berhasil 100%. Sikap sosial,transparan dan baik hati Iwan Bokings,diakui Hasni Manto sang penunggu rumah yang telah 10 tahun ikut menyiapkan hidangan makannya.
“Bapak itu baik, tidak membedakan meski itu sopir,ajudan,atau staf terbawahnya.Kalau makan, biasanya diajak makan bersama di meja makannya. Selain itu,beliau banyak membantu orang-orang yang tidak mampu seperti menyekolahkan mereka,” tutur ibu yang mengaku anaknya bisa menyelesaikan studi di jenjang S1 berkat tangan dingin Iwan Bokings.
Ketulusannya membantu orang-orang kurang beruntung dan sikapnya yang tegas dan transparan memang tak hanya diakui Hasni Manto. Sejumlah pegawai yang ikut hadir dalam ujian doktoral Iwan Bokings menyatakan hal serupa, malah demi membagi kebahagiannya pegawai bawahan mulai dari pengurus rumah tangga di rujab sampai sopirpun diboyong ke Makassar guna membagi kebahagiannya tersebut. Demikian catatan online Blogger-Bekasi yang berjudul Lazimnya sebuah rumah jabatan.
Jumat, 23 September 2011
Lazimnya sebuah rumah jabatan
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar